1.09.2020

Belinda: Anak Kucing yang Basah Kuyup


Belinda menutup komputer jinjingnya, setelah sebanyak 4000 kata yang dia tulis pada lembar-lembar digital Ms. Word. Ia menarik napas lega, merasa puas dengan karangan yang dia tulis seharian ini. Belinda melihat ke arah jam weker pada meja kerjanya. Pukul tiga sore. Lalu, dia melihat ke arah luar, di balik jendela kaca ruang kerjanya Belinda melihat awan gelap bergelantung siap menumpahkan air. 

                Belinda beranjak dari kursi, berjalan ke arah satu keranjang buah apel yang sudah terkupas. Apel-apel tersebut sudah berwarna kecokelatan, karena dia biarkan sejak pagi. Belinda meraih keranjang apel tersebut dan membereskan kulit apel yang berserakan di lantai. 

                Perempuan itu membawa kulit apel dan apel yang telah terkupas ke dapur. Dia meletakkan satu keranjang apel ke atas meja beserta kulit apel. Lalu, Belinda mengambil food processor dan menggiling semua apel-apel tersebut sampai semuanya menjadi halus dan berair. Apel dan kulitnya yang telah halus itu, dimasukkan ke dalam panci dan direbus sampai mendidih. 


                Setelah mendidih, Belinda mengangkat panci tersebut dan dibiarkan sampai dingin. Saat itulah, dia mendengar suara hujan turun dengan deras. Setelah mematikan tungku, Belinda berlari ke samping rumah, mengangkat jemuran yang untungnya masih bisa diselamatkan. 

                “Syukurlah.”

                Belinda hendak kembali ke dapur, ketika mendengar suara anak kucing. Suara anak kucing itu begitu memilukan di tengah-tengah suara hujan yang begitu deras dan penuh. Ia mencari-cari dari mana asal suara tersebut dan sampailah ia di dalam ruang kerjanya. Belinda melihat anak kucing tengah berteduh di kanopi di luar jendela ruang kerjanya. Anak kucing itu basah kuyup sehingga membuat bulu hitam pekatnya lepek. Anak kucing itu meringkuk terkena pias air hujan sembari menjilat-jilat kaki mungilnya. Belinda segera membuka pintu yang menghubungkan dengan taman di samping rumah, dan meraih anak kucing itu.

                Awalnya, anak kucing itu meronta, tetapi Belinda berhasil menangkannya. Ia membawa kucing tersebut ke dalam rumah, meletakkannya di atas kursi dapur yang sudah ia kasih bantalan kursi. Lalu, Belinda mencari handuk kering untuk mengeringkan tubuh anak kucing tersebut dan menyelimutinya. 

                Perempuan itu mengambil piring kecil dan menuangkan susu yang ia ambil dari lemari es. Dan dia mengarahkan piring berisi susu dingin itu ke arah anak kucing. 

                “Maaf ya, aku hanya punya susu dingin,”tukas Belinda kepada anak kucing. Anak kucing itu melihat ke arah Belinda, kemudian menjilati air susu yang disodorkannya. “Minumlah.”

                Sementara anak kucing itu menjilati air susu sampai habis, Belinda kembali meraih panci berisi apel rebus yang sudah dingin. Dia menyaring rebusan apel tersebut dengan kain putih sedikit demi sedikit ke dalam baskom. Setelah semua apel sudah disaring sebanyak dua kali, Belinda mencampurkannya dengan gula dan diaduknya sampai tercampur sempurna. Barulah, setelah itu ia memasukkan sari apel tersebut ke dalam stoples bening berukuran besar dan menutupnya dengan rapat. 

                Belinda melihat ke arah anak kucing di atas kursi. Anak kucing itu tertidur dengan pulas dan menyisakan piring kecil yang bersih, hanya tertinggal bekas-bekas air susu saja. Ia meraih piring tersebut dan memasukkannya ke bak cuci. Lalu, Belinda meraih stoples kaca berisi sari apel dan membawanya ke ruangan dekat dengan dapur. 

                Ruangan tersebut gelap tanpa jendela. Belinda menyalakan lampu yang berpendar berwarna kuning. Ketika pintu terbuka, aroma kuat cuka apel menyerbu hidungnya. Ruangan tersebut tidak luas, namun berisi rak-rak cuka apel yang ada dalam stoples-stoples kaca besar. Belinda meletakkan satu stoples kaca yang dia bawah pada rak sisi kanan yang kosong. Dia mengambil kertas kecil pada kotak di salah satu rak, menulis tanggal dan hari itu. Kemudian, ia mengaitkan kertas cokelat muda itu dengan tali berwarna cokelat dan mengaitkannya ke leher stoples. 

                Belinda memeriksa stoples-stoples cuka apel yang lain. Dia mengecek tanggal pada stoples satu per satu. Membaca keterangan dalam kertas cokelat. Kemudian, dia akan mengambil salah satu stoples dan memasukkannya ke dalam botol-botol berukuran 250ml, 500ml dan 1 liter. Selain menulis, Belinda juga menjual cukap apel via daring. Dia sudah melakukannya sejak satu tahun yang lalu, ketika bertemu sahabat lamanya.

                “Kau membuang apel-apel yang sudah kau kupas?”tanya sahabat Belinda, ketika mendengar cerita Belinda mengenai kebiasaannya sebelum menulis. 

                Mereka berdua berjanji bertemu di salah satu kios susu sapi di Pacet. Lebih tepatnya, di pujasera pada bundaran Pacet. Mereka bertemu usai magrib, ketika udara Pacet mulai dingin. Keduanya memesan dua gelas susu hangat dan sepiring pisang goreng dengan keju dan gula merah. 

                “Ya,”sahut Belinda. “Terkadang, kukasihkan ke tetangga. Sisanya, aku buang.”Dia menghela napas. “Kau tahu, tidak mudah bagiku untuk mengurus apel-apel itu. Terkadang, aku merasa sangat boros. Yah, apel-apel itu tidak murah.”

                Belinda mengambil satu pisang goreng ke dalam piringnya, yang sebelumnya dia minta secara pribadi dengan sendok dan garpu. Lalu, dia memotong pisang goreng tersebut dengan sendok dan memakannya. Sahabat Belinda hanya melihat dan tersenyum maklum. Dia sudah terlalu hapal dengan kebiasaan perempuan itu.

                “Kenapa tidak kau jadikan cuka apel saja?”usul sahabatnya waktu itu.

                “Cuka apel?”Belinda menaikkan kedua alisnya. “Lalu, untuk apa? Kau tahu, aku tidak pernah pakai cuka apel.”

                “Kau bisa memakainya. Kau bisa mencarinya di internet kegunaan cuka apel,”saran sahabatnya, kemudian dia berkata, “Ah, kau bisa menjualnya di internet.”

                Sejak itulah, Belinda rajin membuat cuka apel usai menulis dan menjualnya via internet. Selama berjualan, Belinda sama sekali tidak pernah bertemu dengan pelanggannya. Dia hanya mengantar pesanan-pesanan tersebut ke kantor pos terdekat dan menerima pembayaran via rekening.
                Sebulan sekali, Belinda akan mengirim satu botol cuka apel ke sahabatnya di Surabaya. 

                “Terima kasih, Sis. Cuka apelnya sudah sampai,”begitu ucap sahabatnya di telepon setiap bulan. 

                Tak banyak botol yang terjual setiap harinya. Tapi, Belinda bisa menghabiskan lebih dari 50 botol setiap bulannya. Lagi pula, membuat cuka apel juga memerlukan waktu. Paling tidak, apel-apel yang dia kupas tidak terbuang percuma. 

                Belinda mengambil beberapa botol yang sudah siap untuk dikirim ke pelanggan, mengemasnya dengan bubble wrap, kemudian ia masukkan ke dalam kardus dan mengepaknya secara rapi. Hari ini, dia menjual empat botol berukuran 250ml dan satu botol berukuran 500ml. Ketika dia melihat pesanan masuk, mengepaknya, dan mendapatkan pemberitahuan dana masuk merupakan hal yang menyenangkan. Hal tersebut, membuatnya bersemangat, selain menulis. 

                Dari menulis, dia pun mendapatkan penghasilan. Belinda merupakan salah satu penulis thriller yang diperhitungkan di Indonesia. Meskipun, genre yang diambilnya bukan genre buku yang disukai oleh pembaca di Indonesia. Tapi, salah satu bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Malaysia dan namanya cukup dikenal di negeri tetangga. Selain menerbitkan cerita dalam bentuk buku, Belinda pun menulis cerita di media daring serta blog pribadi. Tak jarang, karyanya pun dimuat di media cetak.

                Kegiatan lain yang disukainya, yakni membaca komentar-komentar dari pembacanya di media daring. Itu sangat menyenangkan buatnya. 

                Belinda mengambil keranjang rotan besar berbentuk persegi di sisi lain ruangan itu dan memasukkan botol-botol yang sudah dikemasnya, serta menulis nama serta alamat pengiriman. Setelah semuanya beres, dia mengangat keranjang rotan dan mengeluarkannya dari ruangan yang khusus untuk cuka-cuka apelnya. Perempuan itu meletakkan keranjang di atas meja dapur. Di sana, dia melihat anak kucing tadi masih tertidur pulas.

                “Tukang tidur, rupanya,”dia bermonolog. Ujung bibirnya sedikit terangkat. 

                Belinda melihat keluar, cuaca sudah membaik. Hujan sudah reda. Ia memutuskan untuk mengantar pesanan cuka apel hari itu juga. Dia kembali meraih keranjang rotan di atas meja, memakai sweater, dan keluar rumah. Lalu, dia mengeluarkan sepeda miliknya, meletakkan keranjang rotan di belakang. Sebelum dia berangkat ke kantor pos, Belinda mengunci pintu-pintu rumahnya.

                Sepedanya meluncur dengan bebas ketika melewati jalanan menurun. Dia harus menempuh perjalanan selama lima belas menit dengan sepeda ketika menuju kantor pos. Dan ketika kembali ke rumahnya, Belinda harus berusaha lebih keras karena jalanan menanjak. Udara Pacet terasa begitu dingin, terlebih lagi usai hujan seperti sekarang. Titik-titik air sisa hujan dari atas pohon, menerpa wajahnya. Wajahnya terasa dingin, tetapi dia sangat menyukainya. 

                Belinda berhenti di depan kantor pos. Kantor pos di daerah rumahnya merupakan kios kecil dan dijaga oleh seorang perempuan muda berusia sekitar awal dua puluh tahun. Ketika Belinda berhenti di depan kios, perempuan itu tengah bersiap-siap menutup kios.  Setelah melihat Belinda, perempuan itu tersenyum dan mempersilakan Belinda masuk dan mengurus pengiriman.

                “Nanti saya kirim pesan lewat email ya, Mbak,”tukas perempuan itu kepada Belinda. Yang dia maksud adalah nomor resi untuk kirimannya. 

                Belinda tersenyum, “Terima kasih.”
                Belinda menaikki sepedanya dan mengayuhnya ke arah rumah. Sesampainya di rumah, dia cukup terkejut ketika melihat seseorang berdiri di sisi rumahnya. Seorang lelaki dengan tinggi badan sekitar 180cm, mengenakan kaus berwarna cokelat, celana jeans dan sepatu boots panjang. Terlihat, tubuh lelaki itu atletis. Lelaki itu melihat ke arah rumah Belinda, seakan mencari sesuatu dan belum menyadari kehadirannya. 

                “Maaf, Anda siapa?”ucap Belinda. Lelaki itu menoleh, sedikit terkejut. Saat itu, Belinda bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu. Perkiaraan Belinda, lelaki itu berusia awal tiga puluhan, sama seperti dirinya. Kulit lelaki itu sedikit gelap, tetapi wajahnya bersih. Hidung lelaki itu mancung, bibirnya tipis, dan alisnya tebal. 

                “Ah, kau pemilik rumah ini?”tanya lelaki itu. Suaranya berat, khas laki-laki. 

                “Bisa dibilang demikian.”

                “Syukurlah,”sahut lelaki itu. “Aku sedang mencari anak kucing. Apa kau melihatnya? Dia berwarna hitam pekat dan matanya berwarna biru.”

                Belinda teringat anak kucing yang tertidur pulas di dapurnya. Dia mengingat anak kucing itu warnanya hitam pekat, tetapi dia tidak memperhatikan kalau warna matanya biru. 

                “Ya,”jawab Belinda. Dia menuntun sepedanya dan meletakkannya di sisi rumah. “Apa itu kucingmu?”

                “Bukan,”sahut lelaki itu. 

                “Itu anak kucing nenekku,”tambah lelaki itu. “Dia mencari-carinya, takut anak kucing itu kelaparan.”

                “Tenanglah, dia sudah kukasih susu.”

                “Ah, benarkah? Syukurlah.”

                Lalu, hujan turun secara tiba-tiba begitu deras. Belinda berlari ke arah teras rumah. “Kucing nenakmu ada di dalam. Masuklah, akan kubuatkan kau teh.”Dia mengundang lelaki asing itu ke rumahnya. 

                “Apa tidak masalah?”tanya lelaki itu ragu.

                “Tentu saja,”sahut Belinda. “Kau tidak mau basah kuyup seperti anak kucing itu, kan?”

                Lelaki itu mendekat ke teras Belinda. Dia mengulurkan tangan. “Aku Mahendra.”

                “Belinda.”

 Surabaya, 09 Januari 2020

pic taken from pinterest.com 
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)